EAST RUTHERFORD, New Jersey — Ada hantu yang menghantui tim nasional Prancis selama 24 tahun. Hantu itu lahir pada 31 Mei 2002 di Seoul, ketika Papa Bouba Diop mencetak satu-satunya gol dalam kemenangan 1-0 Senegal atas juara bertahan Prancis di laga pembuka Piala Dunia. Prancis tidak pernah pulih dari luka itu. Mereka tersingkir di fase grup tanpa mencetak satu gol pun.
Di MetLife Stadium pada 16 Juni 2026, mereka akhirnya membalas dendam.
Babak Pertama: Ketakutan
Selama 45 menit, ini adalah 2002 terulang kembali. Lini serang Prancis — Mbappé, Dembélé, Olise, Doué, empat pemain dengan nilai pasar gabungan lebih dari €400 juta — hanya menghasilkan satu tembakan di babak pertama. Satu. Nol tepat sasaran.
Senegal adalah segala hal yang bukan Prancis: langsung, berbahaya, dan sama sekali tidak takut. Nicolas Jackson mengenai tiang gawang di menit ke-24. Ismaïla Sarr gagal memanfaatkan peluang emas dari jarak dekat. Peluit babak pertama berbunyi dengan skor 0-0, dan para penggemar Prancis di seluruh dunia merasakan ketakutan yang familiar merayap masuk.
Babak Kedua: Api
Didier Deschamps telah dikritik karena banyak hal selama masa jabatannya yang panjang sebagai pelatih Prancis. Ketidakfleksibelan taktik adalah tuduhan yang umum. Tetapi di MetLife Stadium, ia melakukan penyesuaian yang mengubah segalanya.
Michael Olise dipindahkan ke tengah. Gelandang Bayern Munich ini menghabiskan babak pertama terdampar di sayap kanan, menyaksikan pertandingan berlalu begitu saja. Di babak kedua, ia menjadi pusat kreatif — dan tiba-tiba Prancis memiliki denyut nadi.
Menit ke-66, Olise memainkan umpan terobosan dari sisi kanan. Mbappé mengambil satu sentuhan, berputar, dan melepaskan tembakan rendah ke sudut jauh. 1-0.
Gol itu adalah gol ke-57 Mbappé untuk Prancis, melampaui Olivier Giroud sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa negara itu. Tetapi perayaan itu bukan tentang rekor. Itu tentang pelepasan. Dua puluh empat tahun penantian, dihembuskan dalam satu momen.
Pemain Pengganti dan Penutup
Bradley Barcola, di lapangan hanya selama dua menit, membuat skor 2-0 di menit ke-82 dengan chip tenang melewati Édouard Mendy. Penyerang Paris Saint-Germain ini menggantikan Dembélé, dan sentuhan pertamanya yang berarti adalah gol Piala Dunia.
Lalu datanglah drama. Di menit kelima injury time, Ibrahima Mbaye melewati Theo Hernández dan melepaskan tembakan melewati Mike Maignan. 2-1. Senegal memiliki kehidupan.
Enam puluh detik kemudian, Mbappé memadamkannya. Olise menemukannya di tepi kotak penalti. Satu sentuhan, satu tembakan, satu penyelesaian tak terhentikan ke sudut atas. 3-1. Permainan berakhir. Hantu terusir.
Pelajaran untuk Indonesia
Prancis menunjukkan sesuatu yang penting di pertandingan ini: bahkan tim terbaik di dunia pun bisa terlihat biasa-biasa saja ketika sistem mereka tidak berfungsi. Yang membedakan Prancis adalah kemampuan mereka untuk beradaptasi — Deschamps mengubah posisi Olise, dan seluruh permainan berubah.
Ini adalah pelajaran untuk sepak bola Indonesia. Memiliki pemain berbakat saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah sistem yang bisa beradaptasi, pelatih yang berani membuat perubahan, dan pemain yang cukup fleksibel untuk menjalankan peran yang berbeda. Prancis tidak menang karena mereka memiliki Mbappé. Mereka menang karena mereka memiliki rencana — dan rencana cadangan ketika rencana pertama tidak berhasil.
Klasemen Grup I
| Pos | Tim | M | M | S | K | GM | GK | SG | Poin |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Prancis | 1 | 1 | 0 | 0 | 3 | 1 | +2 | 3 |
| 2 | Norwegia | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 3 | Irak | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 4 | Senegal | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 3 | -2 | 0 |
Detail Pertandingan:
- Prancis 3-1 Senegal
- Stadion: MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey
- Gol: Mbappé 66′, 90+6′ (Prancis), Barcola 82′ (Prancis), Mbaye 90+5′ (Senegal)
- Pemain Terbaik: Michael Olise (Prancis)