Piala Dunia FIFA 2026 — Grup J, Matchday 1 | 17 Juni | Stadion San Francisco Bay Area

SAN FRANCISCO — Tiga puluh enam tahun.

Itulah waktu yang dibutuhkan Austria untuk meraih kemenangan di Piala Dunia. Terakhir kali mereka menang di turnamen ini adalah tahun 1990 — musim panas Italia ’90, saat Marco Arnautović baru berusia satu tahun.

Tiga puluh enam tahun kemudian, Arnautović berusia 35 tahun. Ia duduk di bangku cadangan di Stadion San Francisco Bay Area, menyaksikan rekan-rekannya bergulat dengan Yordania — tim debutan Piala Dunia — di bawah sinar matahari siang California. Ia masuk di menit ke-62. Lalu ia memaksa gol bunuh diri, mencetak penalti, dan sempat mencetak gol yang dianulir VAR.

Austria 3-1 Yordania.

Penantian 36 tahun, terbayar dalam satu sore.

Babak Pertama: Gol Dingin Schmid, Mistar Yordania

20 menit pertama, Yordania tidak bermain seperti tim debutan.

Menit ke-2, kapten Ehsan Haddad melepaskan tembakan dari sudut sempit di sisi kanan — meleset, tetapi pesannya jelas: tim ini tidak datang ke San Francisco sebagai turis. Ali Olwan, striker mereka, berburu di lini depan seperti pemburu yang tak kenal lelah. Dan Musa Al-Taamari — pemain senilai €10 juta dari Rennes — membuat lini belakang Austria gemetar setiap kali menyentuh bola.

Tetapi Austria memiliki Ralf Rangnick.

Tim “Profesor” ini dibangun di atas pressing tinggi, dan di menit ke-21, itu membuahkan hasil. Xaver Schlager merebut bola di lini tengah, mendongak, dan mengirim umpan terobosan. Romano Schmid — gelandang 24 tahun dari Werder Bremen — memotong dari kanan dan, tanpa ragu, menyepak bola ke sudut jauh.

1-0.

Schmid berlari ke tiang bendera sudut, mengangkat tangan ke langit. Angin dari Teluk San Francisco menerbangkan rambutnya ke segala arah. Ia tidak peduli. Ini adalah gol Piala Dunia pertamanya. Ini adalah gol Piala Dunia pertama Austria dalam 28 tahun.

Tetapi Yordania tidak runtuh.

Menit ke-35, tendangan sudut Yordania menemui Yazan Al-Arab, yang sundulannya membentur mistar gawang. Kiper Austria Alexander Schlager sudah menyerah — ia hanya bisa menyaksikan bola memantul di garis gawang sebelum dihalau bek. Beberapa sentimeter. Yordania hanya beberapa sentimeter dari gol Piala Dunia pertama mereka.

Babak Kedua: Gol Spektakuler Olwan, dan Drama Arnautović

Menit ke-50.

Noor Al-Rawabdeh menguasai bola di lini tengah. Pertahanan Austria belum kembali ke posisi. Ia melihat lari Olwan — umpan terobosan yang membelah seluruh lini belakang. Olwan menerima bola di tepi kotak penalti dan, tanpa menyentuh bola untuk mengontrol, melepaskan tembakan dengan bagian luar kaki kanannya.

Bola melengkung ke sudut jauh.

1-1.

Bangku cadangan Yordania meledak. Jamal Sellami — pelatih asal Maroko — berlutut, kedua tangan menutupi wajahnya. Ini adalah gol Piala Dunia pertama Yordania. Mereka telah menunggu momen ini sepanjang sejarah sepak bola bangsa mereka.

Tetapi kegembiraan itu hanya bertahan 26 menit.

Menit ke-62, Rangnick membuat keputusan yang mengubah pertandingan: Kalajdzic keluar, Arnautović masuk.

Menit ke-68, Arnautović menyundul bola ke gawang dengan dadanya. Ia berbalik untuk merayakan — tetapi VAR turun tangan. Handball. Gol dianulir. Wajahnya berubah dari ekstasi menjadi kebingungan, lalu kemarahan. Ia menggelengkan kepala dan berjalan kembali ke lingkaran tengah.

Tetapi takdir belum selesai dengannya.

Menit ke-76, Arnautović menusuk dari sisi kanan dan mengirim umpan silang. Bola meluncur ke arah mulut gawang. Yazan Al-Arab — Al-Arab yang sama yang membentur mistar di babak pertama — menjulurkan kaki untuk menghalau. Tetapi bola membentur tulang keringnya dan masuk ke gawang sendiri.

2-1.

Gol bunuh diri.

Al-Arab berlutut di rumput, kepala tertunduk. Rekan-rekannya datang menghibur, tetapi tidak ada kata-kata yang bisa membantu. Inilah sepak bola — satu momen Anda nyaris menjadi pahlawan, momen berikutnya Anda menjadi penyebab kekalahan.

Injury Time: Dua Belas Menit, Satu Penalti

Ofisial keempat mengangkat papan: 12 menit injury time.

Di menit ke-90+12, Arnautović dijatuhkan di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih.

Arnautović meletakkan bola di titik penalti. Ia mengambil napas. Stadion sunyi. Lalu ia berlari dan menendang dengan kaki kanannya.

3-1.

Ia berlari ke tiang bendera sudut, merentangkan tangan. Rekan-rekannya menumpuk di atasnya. Pria 35 tahun itu, di panggung Piala Dunia, telah membunuh pertandingan dengan penalti. Tiga puluh enam tahun lalu, saat Austria terakhir kali menang di Piala Dunia, ia masih memakai popok. Sekarang ia adalah pahlawan.

Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia

Pertandingan ini menawarkan pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia.

Yordania, dengan populasi 11 juta jiwa — lebih kecil dari populasi Jakarta — dan nilai skuad total hanya €20 juta, berhasil mencetak gol melawan Austria yang bernilai €245 juta. Mereka tidak hanya bertahan; mereka menyerang, mereka menekan, mereka menciptakan peluang.

Bagaimana Yordania bisa sampai di sini? Jawabannya: investasi jangka panjang dalam pembinaan pemain muda dan pelatih berkualitas. Jamal Sellami, pelatih Maroko yang membawa Yordania ke Piala Dunia, adalah produk dari sistem kepelatihan yang serius. Musa Al-Taamari, bintang mereka, adalah produk dari akademi yang mengirim pemain ke Eropa.

Indonesia memiliki populasi 280 juta jiwa — 25 kali lipat Yordania. Kita memiliki gairah sepak bola yang luar biasa. Tetapi kita belum pernah tampil di Piala Dunia sejak 1938 — itupun sebagai Hindia Belanda. Yordania membuktikan bahwa ukuran negara bukanlah segalanya. Yang penting adalah sistem, visi, dan kesabaran.

Gol spektakuler Ali Olwan — gol pertama Yordania dalam sejarah Piala Dunia — adalah bukti bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan “apakah kita bisa?” tetapi “kapan kita akan memulainya dengan serius?”

Klasemen Grup J

Pos Tim M M S K GM GK SG Poin
1 Argentina 1 1 0 0 3 0 +3 3
2 Austria 1 1 0 0 3 1 +2 3
3 Yordania 1 0 0 1 1 3 -2 0
4 Aljazair 1 0 0 1 0 3 -3 0

Detail Pertandingan:

BAGIKAN 𝕏 f W