Piala Dunia FIFA 2026 — Grup F, Pertandingan 1 | 14 Juni | Stadion AT&T, Dallas
DALLAS — Virgil van Dijk berdiri dengan tangan di pinggang, menatap rumput. Di sekelilingnya, para pemain Jepang berlarian merayakan gol penyama kedudukan di menit ke-89. Dua kali Belanda unggul. Dua kali Jepang menyamakan. Dan ketika peluit akhir berbunyi, skor 2-2 terpampang di papan skor — sebuah hasil yang terasa seperti kemenangan bagi Samurai Biru, dan seperti kekalahan bagi Oranye.
Tapi bagi kita di Indonesia, pertandingan ini lebih dari sekadar drama 90 menit. Ini adalah cetak biru. Ini adalah bukti bahwa dengan strategi yang tepat, kesabaran, dan investasi jangka panjang, sebuah negara Asia bisa berdiri sejajar dengan raksasa Eropa.
Jalannya Pertandingan: Drama Empat Babak
Belanda membuka skor di menit ke-51. Ryan Gravenberch mengirim umpan silang sempurna, dan Van Dijk — kapten Liverpool, salah satu bek terbaik dunia — menanduk bola ke gawang. 1-0.
Enam menit kemudian, Jepang membalas. Takefusa Kubo, pemain yang pernah dibina di akademi Barcelona dan Real Madrid, melewati bek Belanda dan mengirim bola kepada Keito Nakamura. Tendangan kaki kirinya mengenai defleksi dan masuk ke gawang. 1-1.
Belanda kembali unggul di menit ke-64. Gravenberch kembali menjadi kreator, kali ini memberikan assist kepada Crysencio Summerville yang melakukan debut Piala Dunia. Pemain West Ham itu memotong ke dalam dan melepaskan tendangan melengkung yang indah. 2-1.
Kemudian, di menit ke-89, datanglah momen yang akan dikenang. Junya Ito mengirim umpan dari tendangan sudut. Koki Ogawa — pemain pengganti — melompat dan menyundul bola. Bola mengenai Daichi Kamada, berbelok, dan masuk ke gawang. 2-2.
Pelajaran untuk Indonesia
Jepang tidak selalu seperti ini. Pada tahun 1998, ketika mereka pertama kali tampil di Piala Dunia, mereka kalah semua pertandingan. Mereka bukan siapa-siapa di panggung dunia.
Apa yang berubah? Dua hal: J.League dan ekspor pemain ke Eropa.
J.League diluncurkan pada tahun 1993 dengan visi jangka panjang: membangun infrastruktur sepak bola dari bawah. Akademi-akademi dibangun di setiap klub. Pelatih-pelatih terbaik didatangkan. Sistem pembinaan usia muda distandarisasi. Hasilnya tidak instan — butuh waktu 20 tahun — tapi sekarang Jepang secara rutin mengirim 50+ pemain ke liga-liga top Eropa.
Kubo, Nakamura, Kamada, Ito, Tomiyasu, Mitoma — ini bukan pemain yang kebetulan berbakat. Ini adalah produk dari sistem yang dirancang dengan cermat.
Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar. 280 juta penduduk. Kecintaan terhadap sepak bola yang luar biasa. Diaspora yang tersebar di seluruh dunia. Tapi kita belum memiliki sistem yang konsisten. Pembinaan usia muda masih sporadis. Kompetisi domestik masih berjuang dengan masalah infrastruktur dan tata kelola.
Jepang membuktikan bahwa tidak ada jalan pintas. Dibutuhkan 30 tahun dari peluncuran J.League hingga mereka bisa menahan imbang Belanda di Piala Dunia. Tapi setiap perjalanan dimulai dengan langkah pertama.
Apa Selanjutnya?
Grup F kini dipimpin oleh Swedia setelah kemenangan 5-1 atas Tunisia. Belanda dan Jepang sama-sama mengoleksi satu poin. Pertandingan berikutnya: Belanda melawan Swedia dalam duel yang akan menentukan juara grup. Jepang melawan Tunisia — kemenangan akan membuka jalan ke babak gugur.
Di Dallas malam itu, kita menyaksikan sesuatu yang istimewa: bukan sekadar pertandingan sepak bola, tapi sebuah pernyataan. Jepang telah tiba. Dan mereka tidak akan pergi ke mana-mana.