MONTERREY, Meksiko — Ada yang bilang sepak bola itu kejam. Tapi untuk Belanda, sepak bola — khususnya adu penalti di Piala Dunia — sudah menjadi siksaan yang berulang. Untuk ketiga kalinya secara beruntun di penampilan Piala Dunia, Oranje tersingkir dari titik putih. Kali ini, Maroko yang menjadi algojo, menang 3-2 dalam adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit di Estadio BBVA.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang begadang menonton pertandingan ini, Anda pasti setuju: inilah alasan mengapa kita mencintai Piala Dunia. Drama, air mata, dan momen-momen yang akan dikenang selamanya.

Cody Gakpo mencetak gol pada menit ke-72. Umpan tarik Crysencio Summerville disambut dengan tendangan mendatar yang tak bisa dijangkau Yassine Bounou. Gakpo menangis dalam pelukannya — air mata seorang pemain yang percaya bahwa dia baru saja membawa negaranya ke babak 16 besar. Keyakinan itu bertahan selama 19 menit.

Lalu datanglah masa injury time. Chemsdine Talbi, pemain pengganti, mengirim umpan silang dari sisi kiri. Issa Diop, bek tengah bertubuh jangkung, melompat lebih tinggi dari semua pemain bertahan Belanda dan menyundul bola ke dalam gawang. Menit 90+1. Skor 1-1. Bangku cadangan Maroko meledak. Para pemain Belanda berdiri membeku, tangan di pinggang, menatap langit malam Monterrey.

Adu penalti yang terjadi setelahnya adalah tontonan yang sulit dipercaya. Lima dari sepuluh tendangan penalti gagal. Teun Koopmeiners mencetak gol untuk Belanda, tapi Justin Kluivert — putra legenda Patrick Kluivert — membentur tiang. Quinten Timber menendang melebar. Dan ketika Crysencio Summerville maju dengan skor 2-2, Yassine Bounou membaca arah bola dan menepis tendangannya.

Maroko juga punya drama sendiri. Neil El Aynaoui membentur mistar dengan tendangan pertama. Achraf Hakimi, sang kapten dan salah satu bek kanan terbaik di dunia, membentur tiang di ronde keempat — padahal jika gol, pertandingan akan berakhir. Tapi Ismael Saibari, gelandang serang yang bersinar di fase grup, tetap tenang. Tendangan penaltinya yang menentukan membawa Maroko melaju ke babak 16 besar.

Dari sisi taktik, keputusan Ronald Koeman akan dipertanyakan untuk waktu yang lama. Pelatih Belanda itu meninggalkan formasi 4-3-3 yang telah menghasilkan sepuluh gol di fase grup, beralih ke sistem lima bek untuk pertama kalinya sejak Maret 2024. Hasilnya? Enam tembakan dalam 120 menit. 0,23 expected goals. Sebuah tim yang dibangun untuk menyerang direduksi menjadi tim yang berharap pada adu penalti — dan kita semua tahu bagaimana akhirnya untuk Belanda.

Maroko, sebaliknya, adalah segalanya yang Anda inginkan dari tim knockout: terorganisir, berani, dan pantang menyerah. Mereka menciptakan lima peluang besar. Neil El Aynaoui menyelesaikan 134 operan. Hakimi membentur mistar gawang, berlari tanpa henti di sisi kanan, dan memimpin dengan teladan meskipun penaltinya meleset. Ini adalah tim yang mencapai semifinal pada tahun 2022 dan terlihat sangat mampu untuk melaju jauh lagi.

Bagi penggemar Indonesia, ada pelajaran tentang keindahan dan kekejaman olahraga ini. Kita tahu bagaimana rasanya bermimpi, berharap, percaya — dan kita juga tahu bagaimana rasanya ketika mimpi itu hancur. Belanda kini telah kalah dalam tiga adu penalti Piala Dunia berturut-turut. Mereka adalah “raja tanpa mahkota” sepak bola dunia, dan mahkota itu terasa lebih berat dari sebelumnya.

Maroko akan menghadapi tuan rumah bersama Kanada di Houston pada 4 Juli. Atlas Lions adalah tim Afrika pertama yang mencapai babak 16 besar di turnamen ini, dan mereka belum selesai. Jika Anda mencari tim untuk didukung sekarang setelah fase grup berakhir, tim Maroko ini adalah pilihan yang sulit untuk ditolak. Mereka bermain dengan hati, dengan keterampilan, dan dengan kegembiraan yang membuat Piala Dunia begitu istimewa.

BAGIKAN 𝕏 f W