Piala Dunia FIFA 2026 — Grup B, Matchday 2 | 19 Juni | NRG Stadium, Houston

HOUSTON — Jonathan David menerima bola di kotak penalti, berputar, dan menembak. Gol. Ia berlari ke tiang bendera, tangan terangkat ke langit. Itu gol keduanya. Kanada unggul 4-0. Masih ada 30 menit tersisa.

Tapi itu bukan momen paling kejam.

Momen paling kejam datang di menit ke-78. David dilanggar di kotak penalti. Ia bangkit sendiri. Ia meletakkan bola sendiri. Ia mengambil ancang-ancang sendiri. Ia mencetak gol sendiri. Hattrick. 6-0.

Para pemain Qatar berdiri di lingkaran tengah, kepala tertunduk. Mereka bermain imbang 1-1 dengan Bosnia di laga pembuka, meraih poin pertama dalam sejarah Piala Dunia mereka. Mereka pikir bisa berbuat sesuatu di grup ini. Lalu Kanada datang.

Kanada: Ini Bukan Sepak Bola — Ini Pernyataan

Hasil imbang 1-1 Kanada melawan Swiss di laga pembuka sudah membuat orang memperhatikan. Tapi penampilan ini membawa mereka ke level yang sama sekali berbeda.

David bukan satu-satunya bintang. Alphonso Davies di sisi kiri seperti pisau, setiap akselerasi membuat bek kanan Qatar putus asa. Tajon Buchanan di sisi kanan juga tak terhentikan. Stephen Eustaquio mengendalikan lini tengah, setiap umpan sepresisi pisau bedah.

Gol pertama dari tendangan sudut. Gol kedua dari serangan balik David. Gol ketiga dari aksi solo Davies. Gol keempat dari David menyambar di kotak penalti. Gol kelima dari tembakan jarak jauh Buchanan. Gol keenam dari penalti David.

Enam gol. Enam cara berbeda. Kanada tidak sedang bermain sepak bola — mereka sedang mendemonstrasikan berapa banyak cara sebuah tim bisa membunuhmu.

Qatar: Dari Harapan ke Keputusasaan

Qatar meraih poin pertama dalam sejarah Piala Dunia mereka melawan Bosnia. Mereka tertinggal, menyamakan kedudukan, dan hampir menang. Setelah pertandingan itu, para pemain Qatar tersenyum. Mereka akhirnya meninggalkan jejak di panggung ini.

Tiga hari kemudian, melawan Kanada, mereka dihancurkan.

Qatar menguasai bola 38%, menyelesaikan lebih dari 300 operan, melakukan 5 tembakan. Tapi setiap serangan Kanada adalah operasi bedah. Pertahanan Qatar, di hadapan kecepatan David, dribel Davies, dan kekuatan Buchanan, robek seperti kertas.

Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia

Kanada adalah contoh sempurna tentang bagaimana sebuah negara bisa membangun tim sepak bola yang kompetitif dalam satu generasi. Mereka tidak memiliki tradisi sepak bola yang panjang. Mereka bukan Brasil atau Jerman. Tapi mereka berinvestasi dalam pengembangan pemain muda, mengirim talenta terbaik mereka ke Eropa, dan membangun sistem yang memaksimalkan kekuatan mereka.

Indonesia bisa belajar dari ini. Kita memiliki populasi muda yang besar. Kita memiliki gairah terhadap sepak bola. Yang kita butuhkan adalah investasi jangka panjang dalam pengembangan pemain, keberanian mengirim talenta muda ke luar negeri, dan kesabaran untuk melihat hasilnya dalam 10-15 tahun ke depan. Kanada membuktikan bahwa itu mungkin.

Klasemen Grup B

Pos Tim M M S K GM GK SG Poin
1 Kanada 2 1 1 0 7 1 +6 4
2 Swiss 2 1 1 0 5 2 +3 4
3 Bosnia 2 0 1 1 2 5 -3 1
4 Qatar 2 0 1 1 1 7 -6 1

Detail Pertandingan:

BAGIKAN 𝕏 f W