GUADALAJARA — Ketika Daniel Munoz mencetak gol kemenangan Kolombia di menit ke-76 melawan DR Kongo, ada satu pertanyaan yang mungkin terlintas di benak para penggemar sepak bola Indonesia: apa yang bisa kita pelajari dari pertandingan ini?

Jawabannya: cukup banyak.

Ketekunan Adalah Senjata

Kolombia melepaskan 24 tembakan ke gawang DR Kongo. Dua puluh empat. Dari jumlah itu, hanya satu yang berbuah gol. Sembilan di antaranya ditepis oleh Lionel Mpasi, kiper DR Kongo yang tampil luar biasa. Sisanya melenceng, diblok, atau membentur tiang.

Ini adalah pelajaran tentang ketekunan.

Timnas Indonesia, yang sedang membangun fondasi untuk bersaing di level yang lebih tinggi, sering kali menghadapi situasi serupa: mendominasi penguasaan bola, menciptakan peluang, tetapi kesulitan mencetak gol. Perbedaannya adalah, Kolombia tidak panik. Mereka terus membangun serangan, terus mengirim umpan silang, terus menembak — sampai akhirnya tembok itu runtuh.

Kesabaran dalam membangun serangan, keyakinan bahwa gol akan datang jika prosesnya benar — inilah mentalitas yang perlu ditanamkan dalam sepak bola Indonesia.

Peran Pemain Pengganti

Nestor Lorenzo, pelatih Kolombia, membuat keputusan berani di menit ke-58: menarik keluar James Rodriguez, kapten dan pemain paling kreatif tim, serta Luis Suarez. Masuk: Juan Quintero dan Jhon Cordoba.

Keputusan ini bisa menjadi bumerang. Rodriguez adalah ikon sepak bola Kolombia, pencetak gol terbanyak mereka di Piala Dunia. Menggantinya di saat tim sedang frustrasi adalah pertaruhan besar.

Tapi Lorenzo tidak ragu. Dan pergantian itu terbukti tepat.

Quintero memberikan umpan yang menghasilkan gol kemenangan. Cordoba, dengan kekuatan fisiknya, mampu menahan bola dan menciptakan ruang untuk Munoz. Dua pemain pengganti — dua pahlawan yang tidak terduga.

Untuk Indonesia, pelajarannya jelas: kedalaman skuad adalah kunci. Tidak cukup hanya memiliki 11 pemain inti yang bagus. Sebuah tim yang serius harus memiliki pemain pengganti yang bisa mengubah jalannya pertandingan. Ini adalah area di mana Indonesia masih perlu banyak berkembang.

Kiper yang Heroik Tapi Kalah

Lionel Mpasi mungkin adalah pemain terbaik di lapangan malam itu. Kiper DR Kongo ini membuat sembilan penyelamatan, termasuk lima dalam 20 menit pertama — sebuah rekor yang belum pernah terjadi di Piala Dunia sejak 1998.

Tapi dia tetap kalah.

Ini adalah pengingat yang menyakitkan: seorang kiper yang hebat tidak cukup tanpa tim yang bisa mendukungnya. DR Kongo hanya melepaskan empat tembakan sepanjang pertandingan. Mereka hampir tidak mengancam gawang Kolombia. Mpasi ditinggalkan sendirian untuk menghadapi gelombang serangan demi gelombang serangan.

Indonesia memiliki tradisi menghasilkan kiper-kiper berbakat. Tapi pertandingan ini menunjukkan bahwa kiper yang hebat hanyalah satu bagian dari teka-teki. Tanpa lini tengah yang bisa menguasai bola, tanpa penyerang yang bisa mengkonversi peluang, kiper terbaik sekalipun akan berakhir seperti Mpasi: berjalan keluar lapangan dengan kepala tertunduk setelah memberikan segalanya.

Klasemen Grup K

Pos Tim M M S K GM GK SG Poin
1 Kolombia 2 2 0 0 4 1 +3 6
2 Portugal 2 1 1 0 4 2 +2 4
3 DR Kongo 2 0 1 1 1 2 -1 1
4 Uzbekistan 2 0 0 2 1 5 -4 0

Apa Selanjutnya

Kolombia akan menghadapi Portugal di Miami pada 27 Juni untuk memperebutkan posisi puncak grup. DR Kongo akan melawan Uzbekistan di Atlanta — sebuah pertandingan yang harus mereka menangkan untuk menjaga harapan lolos ke babak 32 besar.

Untuk Indonesia, pertandingan-pertandingan seperti ini adalah kelas master gratis. Setiap umpan, setiap tekel, setiap keputusan taktis — semuanya adalah bahan pembelajaran. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup rendah hati untuk belajar?

Sumber: FootballPark, FOX Sports, 11v11, Opta

BAGIKAN 𝕏 f W