Stadion Houston, 5 Juli — Tiga tuan rumah. Tiga kekalahan. Tiga hari. Kanada tumbang duluan, dan Maroko yang mengeksekusinya dengan dingin, kejam, dan penuh gaya.
Azzedine Ounahi mencetak dua gol brilian, Ismael Saibari menambah satu, dan Maroko mengukir sejarah sebagai tim Afrika pertama yang lolos ke perempat final Piala Dunia dua kali berturut-turut. Qatar 2022 bukan kebetulan. Amerika Utara 2026 adalah pembuktian.

Gol Pertama: 13 Menit, Mimpi Kanada Hancur
Belum sempat para suporter Kanada menikmati atmosfer pertandingan, Maroko sudah unggul. Achraf Hakimi, bek kanan terbaik dunia yang memilih membela Maroko daripada Spanyol, menusuk dari sisi kanan. Umpan silangnya disambut Ounahi di tepi kotak penalti. Satu sentuhan kontrol, satu sentuhan penyelesaian — bola meluncur deras ke sudut bawah gawang. 1-0.
Houston Stadium bergemuruh. Suporter Maroko yang memadati separuh stadion meledak dalam euforia. Genderang berdentum. Bendera berkibar. Nyanyian “Dima Maghrib” menggema tak henti-henti.
Gol Kedua: Ounahi, Sang Maestro
Menit ke-45+1, Ounahi kembali menunjukkan kelasnya. Menerima bola di luar kotak penalti, ia melepaskan tendangan melengkung yang melayang indah ke sudut atas gawang. Gol kelas dunia. Gol yang membuat kiper Kanada hanya bisa berdiri terpaku.
Dua gol di babak pertama. Pertandingan selesai sebelum jeda.
Ounahi menutup laga dengan statistik gila: 12,4 kilometer jarak tempuh, 4 intersep, 3 dribel sukses, 2 peluang tercipta, dan 2 gol. Pemain Marseille ini bukan sekadar gelandang — dia adalah mesin, seniman, dan algojo dalam satu paket.
Kanada: Bangga Meski Kalah
Jangan biarkan skor 3-0 menghapus apa yang telah dicapai Kanada. Sebelum turnamen ini dimulai, mereka belum pernah menang di Piala Dunia. Belum pernah dapat poin. Belum pernah mencetak gol.
Di tanah air sendiri, mereka melakukan semuanya. Imbang 1-1 lawan Bosnia. Menghancurkan Qatar 6-0. Menyingkirkan Afrika Selatan 2-1 di babak 32 besar setelah perpanjangan waktu. Mereka membuat seluruh negeri jatuh cinta pada sepak bola.
Jesse Marsch, pelatih asal Amerika yang mengambil alih tim ini, telah melakukan transformasi luar biasa. Gegenpressing ala Marsch memberi Kanada identitas baru. Tapi melawan Maroko, jurang kualitas terlalu lebar untuk dijembatani.
Jonathan David, striker andalan Kanada, hanya menyentuh bola 14 kali sepanjang 90 menit. Empat belas kali. Itu bukan permainan buruk — itu adalah pemusnahan taktis.
Perempat Final: Maroko vs Prancis
Ini dia. Pertandingan yang dinanti seluruh dunia. Maroko melawan Prancis. Bekas jajahan melawan bekas penjajah. Semifinalis 2022 melawan juara 2018. Achraf Hakimi melawan Kylian Mbappé — rekan setim di PSG, sekarang musuh di lapangan.
Hakimi tahu setiap gerakan Mbappé. Mereka berlatih bersama setiap hari di Paris. Tapi Mbappé juga tahu setiap kelemahan Hakimi. Siapa yang akan menang dalam duel epik ini?
Maroko telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim yang bertahan dan berharap keberuntungan. Mereka bisa mendominasi, mengontrol permainan, dan menang dengan meyakinkan. Melawan Prancis, mereka akan menjadi underdog lagi. Tapi Singa Atlas tidak pernah takut pada siapapun.
Afrika bersatu di belakang Maroko. Seluruh benua menanti. Dan setelah penampilan malam ini, tidak ada yang mustahil.
Statistik Kunci
| Statistik | Maroko | Kanada |
|---|---|---|
| Penguasaan Bola | 62% | 38% |
| Tembakan | 15 | 4 |
| Tembakan Tepat | 7 | 1 |
| Expected Goals | 2.87 | 0.23 |
| Operan Sukses | 541 | 287 |
Angka-angka ini tidak berbohong. Maroko jauh lebih superior. Dan mereka pantas melaju ke perempat final.