SAN FRANCISCO — Stadion Levi’s yang biasanya ramai dengan aksi NFL menjadi saksi salah satu pertandingan paling membosankan di Piala Dunia 2026. Paraguay dan Australia bermain imbang 0-0, hasil yang mengirim Australia ke babak 32 besar dan meninggalkan Paraguay dalam ketidakpastian.

Tapi di balik kebosanan itu, ada cerita yang lebih dalam: tentang dua tim yang tahu persis apa yang mereka butuhkan, dan tentang satu tim — Turki — yang pulang dengan rasa malu yang mendalam.

Paraguay 0-0 Australia: Socceroos Lolos dengan Pragmatisme — Paraguay Menanti Nasib, Turki Pulang dengan Malu

Pragmatisme di Atas Segalanya

Australia datang ke pertandingan ini dengan satu misi: jangan kalah. Hasil imbang sudah cukup untuk mengamankan tempat kedua di belakang Amerika Serikat. Tony Popovic, pelatih yang dikenal dengan pendekatan pragmatisnya, menyusun tim untuk melakukan exactly that.

Mereka menguasai bola (56%), menciptakan lebih banyak peluang (0.58 xG vs 0.25 Paraguay), tapi tidak pernah terlihat seperti tim yang benar-benar ingin mencetak gol. Ini adalah sepak bola kalkulatif — bukan untuk menghibur, tapi untuk mencapai tujuan.

Paraguay, di sisi lain, datang dengan masalah yang lebih besar. Tanpa Miguel Almirón — playmaker mereka yang diskors karena kartu merah melawan Turki — mereka tahu bahwa menciptakan peluang akan sulit. Gustavo Alfaro memilih formasi 5-4-1 yang defensif, dan timnya terlihat puas dengan clean sheet.

Momen yang Hampir Mengubah Segalanya

Satu momen di injury time bisa mengubah seluruh cerita grup ini.

Menit ke-90+3: Mauricio, pemain pengganti Paraguay, menerima bola di dalam kotak penalti. Tembakannya keras, tapi lurus ke arah Patrick Beach. Kiper Australia itu menangkap bola dengan aman.

Seandainya bola itu masuk, Australia akan terjun ke klasemen peringkat ketiga dan Paraguay akan merayakan kelolosan otomatis. Sepak bola adalah permainan inci — dan Paraguay hanya kurang beberapa inci dari keajaiban.

Tragedi Turki

Tapi kisah terbesar dari Grup D bukanlah Australia atau Paraguay. Ini adalah Turki.

Tiga pertandingan. Tiga kekalahan. Nol gol.

Untuk tim yang datang dengan pemain-pemain seperti Hakan Çalhanoğlu, Arda Güler, dan Kenan Yıldız — ini adalah kegagalan yang memalukan. Mereka mengambil 62 tembakan dalam dua pertandingan pertama dan tidak mencetak satu gol pun. Mereka kalah 2-0 dari Australia, 1-0 dari Paraguay (yang bermain dengan 10 orang selama setengah jam terakhir), dan kemudian dihancurkan oleh Amerika Serikat.

Ini bukan nasib buruk. Ini adalah kegagalan sistemik — kegagalan taktik, kegagalan mentalitas, kegagalan eksekusi. Turki akan pulang sebagai salah satu tim paling mengecewakan di Piala Dunia 2026.

Klasemen Akhir Grup D

Pos Tim M W D L GF GA GD Pts
1 Amerika Serikat 3 3 0 0 8 1 +7 9
2 Australia 3 1 1 1 2 2 0 4
3 Paraguay 3 1 1 1 1 3 -2 4
4 Turki 3 0 0 3 0 5 -5 0

Apa Selanjutnya?

Australia akan menghadapi runner-up Grup G — Iran, Mesir, Belgia, atau Selandia Baru — pada 3 Juli di Arlington. Ini adalah pertandingan yang bisa dimenangkan. Popovic melakukan enam perubahan untuk pertandingan ini, merotasi skuadnya sambil tetap mengamankan hasil. Kesegaran itu bisa menjadi kunci di babak knockout.

Paraguay harus menunggu. Kekalahan 4-1 dari Amerika Serikat di pertandingan pembuka meninggalkan luka di selisih gol mereka yang mungkin berakibat fatal. Tapi jika mereka selamat dari kalkulasi peringkat ketiga, tim Alfaro — yang mengalahkan Turki dengan 10 pemain — akan menjadi lawan yang berbahaya bagi juara grup mana pun.

Sumber: Sky Sports, ESPN, FIFA

BAGIKAN 𝕏 f W