Piala Dunia FIFA 2026 — Grup A, Matchday 2 | 19 Juni | Mercedes-Benz Stadium, Atlanta

ATLANTA — Menit ke-6, Michal Sadilek menerima umpan terobosan Alexandr Sojka di tepi kotak penalti dan menyapu bola masuk. 71.000 penonton di Mercedes-Benz Stadium belum sempat duduk dengan nyaman. 1-0.

Menit ke-83, lengan Pavel Schulz yang terentang memblok tembakan di dalam kotak penalti. Wasit Tori Penso menunjuk titik putih. Teboho Mokoena — kapten Afrika Selatan, pria paling tenang di stadion — melangkah maju. Ia mengirim kiper ke arah yang salah. 1-1.

Itulah kisah Ceko dan Afrika Selatan di Atlanta. 77 menit penantian. Dua momen penentu. Satu poin untuk masing-masing. Dua tim masih hidup, nyaris tidak.

Menit 6: Lemparan Jauh Ceko Kembali Menyerang

Jika Anda menonton laga pembuka Ceko melawan Korea Selatan, ini terasa familiar.

Lemparan jauh Vladimir Coufal — “granat tangan” yang diluncurkan dari sisi kanan ke dalam kotak penalti seperti tendangan sudut. Patrik Schick menyundul bola. Sojka mengumpan terobosan ke Sadilek. Penyelesaian bersih, rendah, dan melewati Ronwen Williams sebelum kiper Afrika Selatan bisa bereaksi.

Dua belas detik dari lemparan ke dalam hingga gol.

Melawan Korea Selatan, senjata yang sama menghasilkan gol sundulan Ladislav Krejci. Dua pertandingan, dua gol dari lemparan jauh Coufal. Rencana serangan Ceko sederhana sampai absurd: gunakan tinggi badan dan fisik untuk mendominasi lawan di kotak penalti, perlakukan lemparan ke dalam seperti tendangan sudut, perlakukan tendangan sudut seperti perang.

Tapi hal-hal sederhana sering kali paling berhasil.

Menit 83: Penalti Mokoena, Garis Hidup Afrika Selatan

Afrika Selatan menguasai bola 62%. Mereka menyelesaikan lebih dari 90% operan. Tapi tanpa Sphephelo Sithole dan Themba Zwane — diskors setelah kartu merah melawan Meksiko — lini tengah kehilangan kreativitas.

Lalu menit ke-83 tiba.

Tapero Maseko memotong dari kanan dan melepaskan tembakan. Bola mengenai lengan Schulz yang terentang. Penso tidak ragu — ia menunjuk titik penalti.

Mokoena meletakkan bola. Kapten, pemain dengan rating tertinggi di lapangan, mengambil ancang-ancang pendek dan mendorong bola ke sudut kiri bawah. Kovar menebak dengan benar tapi tidak bisa menjangkaunya. 1-1.

Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia

Pertandingan ini adalah pelajaran tentang pentingnya set piece sebagai senjata.

Ceko bukan tim dengan bakat individu terbaik di Grup A. Mereka tidak memiliki pemain sekelas Hirving Lozano dari Meksiko atau Son Heung-min dari Korea Selatan. Tapi mereka memiliki satu senjata yang dilatih dengan sempurna: lemparan jauh Coufal. Dua pertandingan, dua gol dari lemparan ke dalam. Tidak ada tim lain di Piala Dunia ini yang mencetak dua gol dari lemparan ke dalam.

Indonesia bisa belajar dari ini. Kita mungkin tidak memiliki pemain dengan kemampuan individu terbaik di Asia. Tapi kita bisa memiliki set piece yang dilatih dengan sempurna. Kita bisa memiliki satu senjata yang membuat lawan takut setiap kali bola keluar di dekat kotak penalti. Detail kecil bisa menjadi pembeda di level tertinggi.

Klasemen Grup A

Pos Tim M M S K GM GK SG Poin
1 Meksiko 2 2 0 0 3 0 +3 6
2 Korea Selatan 2 1 0 1 2 2 0 3
3 Ceko 2 0 1 1 2 3 -1 1
4 Afrika Selatan 2 0 1 1 1 3 -2 1

Detail Pertandingan:

BAGIKAN 𝕏 f W