Sepak bola bisa menjadi olahraga paling kejam di dunia. Fernando Muslera, kiper berusia 37 tahun dengan 140 caps untuk Uruguay, pahlawan dua perempat final Piala Dunia, berlutut di rumput Guadalajara dan membenamkan wajahnya ke dalam sarung tangan. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal ketiganya di turnamen ini. Tiga pertandingan fase grup, tiga blunder, tiga gol bersarang. Sebuah karier yang dibangun di atas penyelamatan-penyelamatan heroik selama dua dekade, hancur dalam 270 menit.
Spanyol mengamankan puncak Grup H dengan kemenangan 1-0 yang metodis dan tanpa banyak drama. Gol itu, ketika tiba di menit ke-42, adalah hadiah yang dibungkus dengan keputusasaan Uruguay. Marcos Llorente mengirim umpan silang dari kanan, Álex Baena mengontrol dan berputar, dan tendangannya — lemah, ke tengah, sama sekali tidak mengancam — entah bagaimana lolos dari sarung tangan Muslera dan menggelinding melewati garis gawang. Itu adalah jenis kesalahan yang menghantui mimpi buruk setiap kiper.

Kehancuran Seorang Legenda
Turnamen Muslera adalah bencana berantai. Laga 1 melawan Arab Saudi: tepisan yang jatuh tepat ke kaki Amri untuk gol penyeimbang. Laga 2 melawan Cape Verde: keputusan keluar dari sarang yang salah, membiarkan Varela mencetak gol. Laga 3 melawan Spanyol: blunder “tangan mentega” yang menyegel nasib Uruguay. Menurut statistik Opta, Muslera menjadi kiper pertama dalam sejarah Piala Dunia (sejak pencatatan data lengkap dimulai tahun 1966) yang melakukan tiga kesalahan langsung berujung gol dalam satu turnamen. Total kesalahan Piala Dunia sepanjang kariernya kini mencapai lima — terbanyak dalam sejarah kompetisi ini.
Marcelo Bielsa sudah cukup melihat. Di jeda babak, dengan Uruguay tertinggal 1-0 dan Ugarte ditandu keluar karena cedera serius, pelatih asal Argentina itu membuat keputusan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Piala Dunia Uruguay: ia mengganti kiper utama. Sergio Rochet, kiper pilihan pertama reguler yang secara misterius dicadangkan untuk Muslera sepanjang turnamen, akhirnya mendapatkan sarung tangannya kembali. Tapi kerusakan sudah terjadi.
Kendali Matador
Spanyol tidak perlu tampil brilian. Mereka hanya perlu profesional, dan mereka memang profesional. Tim asuhan Luis de la Fuente menguasai 67% penguasaan bola, menciptakan enam tendangan sudut berbanding satu milik Uruguay, dan mengelola pertandingan dengan ketenangan tim yang tahu persis apa yang mereka lakukan. Pedri dan Merino mendikte tempo lini tengah. Lamine Yamal, 17 tahun, menyiksa pertahanan Uruguay dengan dribel-dribelnya. Oyarzabal menjadi ancaman konstan di sisi kiri.
Satu-satunya noda di malam Spanyol adalah peluang terbuang untuk menggandakan keunggulan — Ferran Torres, sebagai pemain pengganti, berhadapan satu lawan satu dengan Rochet di menit ke-87 tetapi tendangannya membentur mistar gawang. Itu tidak penting. Spanyol sudah melakukan cukup.
Keruntuhan Total Uruguay
Babak kedua bukan lagi pertandingan sepak bola — melainkan disintegrasi publik. Kartu kuning untuk Sanabria, Varela, dan De La Cruz. Tekel-tekel liar dan sembrono. Kartu merah di menit ke-95 untuk Canobbio, yang meluncurkan tekel dua kaki ke arah Cubarsí yang bisa mematahkan kaki. Uruguay menyelesaikan pertandingan dengan sepuluh pemain dan nol martabat.
Statistik menceritakan kisah impotensi serangan: lima tembakan, satu tepat sasaran. Darwin Núñez, striker Liverpool yang membawa begitu banyak harapan, terisolasi dan tidak efektif. Federico Valverde, mesin Real Madrid, diganti di menit ke-57 saat Bielsa putus asa mencari gol yang tak pernah datang.
Klasemen Akhir Grup H
Spanyol: 7 poin (2M 1S 0K), GM 7 GK 1 — Juara grup
Cape Verde: 3 poin (0M 3S 0K), GM 0 GK 0 — Runner-up (penampilan perdana bersejarah ke fase gugur!)
Uruguay: 2 poin (0M 2S 1K), GM 1 GK 2 — Tersingkir
Arab Saudi: 1 poin (0M 1S 2K), GM 1 GK 6 — Tersingkir
Sementara Uruguay hancur di Guadalajara, Cape Verde bermain imbang 0-0 dengan Arab Saudi di Houston. Tiga hasil imbang, nol gol dicetak, nol gol kebobolan — dan satu tempat di babak 32 besar. Negara kepulauan berpenduduk 600.000 jiwa itu mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh juara dunia dua kali: bertahan hidup.
Beban Sejarah
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Uruguay ini adalah pengingat yang menyakitkan: dalam sepak bola, pengalaman tidak menjamin kesuksesan. Muslera punya 140 caps. Dia sudah bermain di empat Piala Dunia. Dia pernah menyelamatkan penalti di momen-momen terbesar. Dan tidak ada yang berarti ketika tangannya gagal.
Saat peluit akhir berbunyi di Guadalajara, kamera menemukan Muslera di bangku cadangan, handuk menutupi kepalanya. Dia tidak bergerak untuk waktu yang lama. Di suatu tempat di tribun, seorang penggemar Uruguay memegang bendera bertuliskan: “Gracias, Fernando.” Terima kasih, Fernando. Bahkan di tengah kehancuran, ada rasa terima kasih. Tapi ada juga patah hati — jenis yang hanya bisa diberikan oleh sepak bola, dan hanya bisa dipahami oleh seorang kiper.