Piala Dunia FIFA 2026 — Grup K, Matchday 1 | 17 Juni | Stadion NRG, Houston

HOUSTON — Lima puluh dua tahun.

Itulah waktu yang dibutuhkan Republik Demokratik Kongo untuk mencetak gol di Piala Dunia. Terakhir kali mereka tampil di turnamen ini, mereka disebut Zaire — 1974 di Jerman Barat, tiga kekalahan, nol gol, empat belas kebobolan. Setengah abad berlalu. Perang, kudeta, epidemi. Dan malam panjang sepak bola yang sunyi.

Lima puluh dua tahun kemudian, Yoane Wissa melompat di Stadion NRG dan menyundul umpan silang Arthur Masuaku melewati Diogo Costa.

1-1.

Gol Piala Dunia pertama RD Kongo. Dan Portugal — peringkat 5 dunia, nilai skuad lebih dari €1 miliar, salah satu favorit turnamen — ditahan imbang di laga pembuka.

Gol Cepat: Neves Cetak Gol di Menit 6

Portugal hanya butuh enam menit untuk mencetak gol.

Pedro Neto mengirim umpan silang dari kiri. João Neves — gelandang 21 tahun dari Paris Saint-Germain, bernilai €140 juta — melompat dan menyundul bola melewati Lionel Mpasi.

1-0.

Para pendukung Portugal di dalam Stadion NRG bersorak. Semuanya berjalan sesuai naskah: favorit mencetak gol cepat, underdog runtuh, pertandingan menjadi formalitas.

Tetapi RD Kongo tidak runtuh.

Mereka bermain dengan formasi 5-3-2 — tembok lima pemain. Aaron Wan-Bissaka — ya, bek kanan Premier League yang terkenal dengan kemampuan bertahan satu lawan satu — ditempatkan sebagai bek tengah kanan. Chancel Mbemba, sang kapten, berlabuh di tengah. Axel Tuanzebe dan Steve Kapuadi di sisinya. Arthur Masuaku di kiri. Lima orang, satu kepalan.

Portugal menguasai bola lebih dari 70%. Bruno Fernandes mencoba umpan-umpan melengkung. Bernardo Silva menusuk setengah ruang. João Cancelo memotong ke dalam. Mereka mencoba segalanya. Tetapi pertahanan RD Kongo berkontraksi seperti kepalan tangan yang terkepal, dan setiap umpan Portugal kembali.

Momen Wissa: Setengah Abad, Dipadatkan dalam Satu Sundulan

Menit injury time babak pertama, menit ke-45+5.

Masuaku menguasai bola di sisi kiri. Ia mendongak — Cédric Bakambu menarik dua bek ke tiang dekat. Wissa bergerak ke tiang jauh, tanpa diketahui. Umpan silang melengkung ke tiang belakang.

Wissa melompat.

Tingginya 178 sentimeter. Di antara dua bek tengah Portugal, ia tidak terlihat tinggi. Tetapi waktunya — sempurna. Lompatannya — eksplosif. Dahinya — mengenai bola tepat di tengah.

Bola melesat ke sudut jauh.

1-1.

Bangku cadangan RD Kongo meledak. Sébastien Desabre — pelatih asal Prancis — mengepalkan kedua tangan dan meraung ke langit Houston. Para pemain berlari ke tiang bendera sudut. Wissa tertimbun di bawah tumpukan tubuh. Ia bermain untuk Newcastle United. Ia telah mencetak gol di Premier League. Tetapi yang ini — yang ini berbeda.

Ini adalah gol Piala Dunia pertama RD Kongo. Selamanya.

52 tahun lalu, sebagai Zaire, mereka memainkan tiga pertandingan dan tidak mencetak satu gol pun. 52 tahun kemudian, sebagai Republik Demokratik Kongo, di stadion ber-AC di Houston, melawan tim peringkat 5 dunia, mereka menuliskan nama mereka dalam sejarah.

Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia

Pertandingan ini adalah bukti bahwa sepak bola tidak selalu tentang uang atau peringkat FIFA.

RD Kongo, dengan nilai skuad total €73 juta — hanya sekitar 7% dari nilai skuad Portugal yang lebih dari €1 miliar — berhasil menahan imbang salah satu tim terbaik di dunia. Mereka tidak hanya bertahan; mereka memiliki rencana, mereka memiliki disiplin, mereka memiliki keberanian.

Bagaimana RD Kongo sampai di sini? Jawabannya: investasi dalam pemain diaspora dan pelatih berkualitas. Yoane Wissa lahir di Prancis tetapi memilih membela RD Kongo. Aaron Wan-Bissaka lahir di Inggris tetapi memilih membela RD Kongo. Sébastien Desabre, pelatih mereka, adalah produk dari sistem kepelatihan Prancis yang ketat.

Indonesia memiliki diaspora yang besar — pemain-pemain keturunan Indonesia yang bermain di liga-liga Eropa. Kita memiliki populasi 280 juta jiwa, 25 kali lipat RD Kongo. Kita memiliki gairah sepak bola yang luar biasa. Tetapi kita belum pernah tampil di Piala Dunia sejak 1938 — itupun sebagai Hindia Belanda.

RD Kongo membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil. Dengan perencanaan yang tepat, dengan memanfaatkan talenta diaspora, dengan pelatih yang kompeten — sebuah negara yang pernah dilanda perang dan kemiskinan bisa menahan imbang Portugal di Piala Dunia.

Gol Wissa adalah bukti bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan “apakah kita bisa?” tetapi “kapan kita akan memulainya dengan serius?”

Ronaldo: Enam Piala Dunia, Rekor Masih Menunggu

Cristiano Ronaldo bermain 90 menit penuh.

Di usia 41 tahun, mengenakan kaus nomor 7 yang ikonik, ia berdiri sebagai penyerang tengah. Ini adalah Piala Dunia keenamnya — hanya ia dan Lionel Messi yang pernah melakukannya. Ia hanya butuh satu gol untuk menjadi pria pertama dalam sejarah yang mencetak gol di enam Piala Dunia berbeda.

Tetapi gol itu tidak datang.

Ia memiliki peluang. Di menit ke-82, ia mencoba tendangan salto di kotak penalti — bola melambung di atas mistar. Stadion menarik napas, lalu menghela. Ia berlari, ia mencari ruang, tetapi Mbemba dan Tuanzebe tidak pernah meninggalkannya.

Di usia 41, kakinya tidak lagi bisa membawa seluruh pertahanan di punggungnya. Tetapi pergerakannya, instingnya, kehadirannya di kotak penalti — hal-hal itu tetap ada. Hanya saja malam ini, hal-hal itu tidak berubah menjadi gol.

Klasemen Grup K

Pos Tim M M S K GM GK SG Poin
1 Kolombia 1 1 0 0 3 0 +3 3
2 Portugal 1 0 1 0 1 1 0 1
3 RD Kongo 1 0 1 0 1 1 0 1
4 Uzbekistan 1 0 0 1 0 3 -3 0

Detail Pertandingan:

BAGIKAN 𝕏 f W