Masih ingatkah kamu momen saat Luka Modrić, dengan rambut gondrong khasnya, mengangkat trofi Ballon d’Or 2018? Momen itu terasa magis, saat seorang maestro lini tengah mematahkan dominasi satu dekade Messi dan Ronaldo. Kini, delapan tahun kemudian, sang maestro bersiap untuk memainkan simfoni terakhirnya di panggung termegah, dan kita semua di Asia Tenggara akan menjadi saksi sebuah akhir dari sebuah era.

Momen Penentu

Di tengah sejuknya udara Washington D.C., tempat timnas Kroasia mendirikan markas mereka, sebuah keputusan besar telah diambil dalam sunyi. Luka Modrić, di usianya yang ke-40, kabarnya telah memutuskan bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen profesional terakhirnya. Keputusan ini lahir dari kekecewaan mendalam setelah klubnya, AC Milan, gagal lolos ke kompetisi Eropa musim ini. Bagi seorang juara sejati seperti Modrić, bermain tanpa tantangan di level tertinggi terasa hampa. Ini bukan sekadar kekecewaan biasa; ini adalah sinyal dari hati dan tubuhnya bahwa sudah waktunya untuk satu perjuangan terakhir yang epik, sebelum menggantung sepatunya selamanya.

Perjalanan Karier Sang Maestro

Perjalanan Modrić adalah kisah tentang ketekunan. Dari seorang bocah kurus pengungsi perang yang kini menjadi salah satu gelandang terhebat sepanjang masa. Dunia mulai mengenalnya saat ia menjadi jenderal lapangan tengah Tottenham Hotspur di Premier League. Namun, di Real Madrid-lah ia menjelma menjadi legenda. Selama 13 musim, ia adalah jantung dari salah satu dinasti terhebat dalam sejarah klub, memenangkan 6 trofi Liga Champions yang luar biasa dan total 28 piala, menjadikannya pemain dengan gelar terbanyak dalam sejarah Real Madrid.

Puncaknya adalah tahun 2018. Ia tidak hanya membawa Kroasia, negara kecil dengan populasi 4 juta jiwa, ke final Piala Dunia, tetapi juga dianugerahi Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen. Beberapa bulan kemudian, ia berdiri di panggung Paris, memecahkan duopoli Messi-Ronaldo untuk meraih Ballon d’Or. Ia membuktikan bahwa sihir di lapangan tidak selalu tentang jumlah gol, tetapi tentang visi, kontrol, dan keanggunan. Bahkan setelah memenangkan segalanya, ia kembali memimpin Kroasia meraih tempat ketiga di Piala Dunia 2022, seolah menolak untuk menua.

Hubungan Erat dengan Fans Asia Tenggara

Di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan seluruh Asia Tenggara, nama Modrić itu magis. Kenapa? Karena jutaan dari kita adalah fans berat Real Madrid. Selama lebih dari satu dekade, kita begadang untuk menonton aksinya di Liga Champions, mengagumi umpan-umpan trivela-nya yang ikonik. Para Madridista di sini mengenalnya bukan hanya sebagai pemain, tapi sebagai legenda klub.

Bagi fans Premier League, kita sudah mengenalnya sejak di Spurs dan selalu menaruh hormat padanya setiap kali ia menaklukkan tim-tim Inggris di Eropa. Momen Ballon d’Or 2018-nya dirayakan di sini seolah-olah ia adalah pahlawan kita sendiri. Hingga kini, coba saja cari “jersey Modrić” atau “jersey Kroasia” di Lazada, pasti masih banyak yang mencari dan menjualnya. Laga pembuka melawan Inggris nanti akan menjadi ajang nobar akbar di kafe dan warkop seluruh penjuru negeri, di mana fans Inggris pun akan mengakui kehebatan sang maestro yang jadi lawan mereka.

Babak Piala Dunia: Yang Terakhir dan Terbaik?

Ini adalah Piala Dunia kelimanya—sebuah pencapaian yang menunjukkan daya tahan dan kualitas luar biasa. Tapi yang membuat edisi kali ini begitu emosional adalah narasi kembalinya sang kapten. Baru April lalu, ia menderita patah tulang pipi dalam sebuah laga Serie A. Banyak yang khawatir ia tak akan sempat pulih untuk Piala Dunia. Tapi, seorang pejuang tidak menyerah.

Modrić berjuang keras, kembali ke lapangan tepat waktu, dan seolah ingin mengirim pesan kepada dunia, ia mencetak gol indah dalam laga persahabatan melawan Slovenia pada 7 Juni. Gol itu bukan sekadar angka di papan skor; itu adalah pernyataan. “Aku di sini. Aku siap. Dan aku datang untuk bertarung.” Baginya, ini bukan tur perpisahan. Ini adalah satu kesempatan terakhir untuk meraih satu-satunya trofi yang belum ada di lemarinya.

Apa Selanjutnya?

Semua mata akan tertuju pada laga pembuka Grup L. Tandai kalendermu: Kroasia vs Inggris, sebuah ulangan semifinal epik 2018. Pertandingan ini akan dimainkan pada hari Kamis, 18 Juni 2026, pukul 03.00 WIB dini hari (04.00 WITA / 05.00 WIT). Siapkan kopi, gorengan, dan saksikan bagaimana Modrić, di usia 40 tahun, sekali lagi mencoba mendikte permainan melawan para bintang muda Inggris. Setelah itu, Kroasia akan menghadapi Panama dan Ghana. Perjalanan mungkin akan berat, tapi dengan Modrić sebagai dirigen, orkestra Kroasia selalu punya peluang untuk menciptakan keajaiban.

Reaksi Para Fans

Media sosial sudah ramai membicarakan “tarian terakhir” Modrić:

Fakta Singkat

FAQ

Apakah Luka Modrić akan pensiun setelah Piala Dunia 2026? Laporan kuat dari media internasional menyebutkan bahwa ia memang telah memutuskan untuk pensiun dari sepak bola profesional setelah turnamen ini berakhir, dipicu oleh kekecewaannya di level klub bersama AC Milan.

Sudah berapa kali Luka Modrić bermain di Piala Dunia? Piala Dunia 2026 adalah partisipasinya yang kelima, sebuah rekor yang luar biasa. Ia sebelumnya bermain di edisi 2006, 2014, 2018, dan 2022.

Di mana fans di Asia Tenggara bisa menonton aksi Luka Modrić di Piala Dunia 2026? Kamu bisa menyaksikan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026, termasuk semua laga Kroasia, melalui platform streaming resmi pemegang hak siar di negaramu (seperti Vidio di Indonesia) atau melalui saluran televisi yang ditunjuk. Pastikan untuk mengecek jadwal siaran lokal mendekati tanggal pertandingan.

BAGIKAN 𝕏 f W