KONTROVERSI

Benarkah format 48 tim untuk turnamen 2026 akan menurunkan kualitas sepak bola? Inilah narasi yang terus digaungkan oleh banyak pundit Barat, yang mengklaim bahwa kualitas pertandingan akan merosot drastis. Sorotan mereka sering tertuju pada negara-negara dari Asia, Afrika, dan CONCACAF, yang dianggap tidak memiliki kedalaman skuad untuk bersaing di level tertinggi.

Debat ini terus memanas di media sosial, terutama karena narasi tersebut dianggap mengabaikan perkembangan taktis nyata dari konfederasi-konfederasi yang sedang naik daun. Banyak penggemar merasa klaim ini tidak adil dan ketinggalan zaman.

FAKTA ATAU DRAMA?

Kritik ini lebih terasa seperti drama yang didorong oleh bias media tradisional daripada bukti taktis yang solid. Faktanya, banyak pemain dari negara-negara yang diremehkan tersebut kini menjadi tulang punggung di liga-liga top Eropa seperti EPL dan La Liga. Ekspansi ini justru memberikan panggung yang layak bagi mereka untuk menunjukkan hasil pembangunan taktis yang telah mereka siapkan selama dekade terakhir.

Alih-alih merusak kompetisi, format baru ini memaksa tim-tim unggulan untuk tidak lagi bisa meremehkan lawan sejak fase grup. Klaim bahwa kualitas akan menurun hanyalah sebuah narasi yang gagal mengakui bahwa kesenjangan taktis global saat ini sudah jauh lebih sempit.

GAMBARAN BESAR

Perdebatan ini sebenarnya menyingkap bagaimana budaya media sepak bola sebagian besar masih terjebak pada eurosentrisme. Ada keengganan untuk mengakui pergeseran kekuatan taktis yang kini telah menyebar ke luar Eropa dan Amerika Selatan.

Daripada meratapi format baru, seharusnya diskursus publik lebih fokus pada bagaimana globalisasi sepak bola akan memperkaya turnamen di USA, Meksiko, dan Kanada dengan variasi gaya bermain yang lebih beragam pada 2026 nanti.

BAGIKAN 𝕏 f W